Manajer yang Berorientasi pada Hasil vs. Manajer yang Berorientasi pada Orang
Kami percaya manajer terbaik tidak memilih antara hasil atau orang mereka menggabungkan keduanya.

Sebagai pemimpin, Anda pasti setuju bahwa gaya manajerial Anda sangat menentukan kesuksesan tim. Kami ingin mengajak Anda menjelajahi dua pendekatan manajerial yang sering diperdebatkan: berorientasi pada hasil dan berorientasi pada orang. Mana yang lebih baik? Atau, mungkinkah jawabannya terletak pada keseimbangan keduanya? Dalam artikel ini, kami akan memandu Anda memahami karakteristik, kelebihan, dan kekurangan kedua pendekatan ini, serta mengapa Anda perlu menggabungkannya untuk memimpin dengan efektif. Mari kita mulai dan temukan pendekatan terbaik untuk tim Anda!
Mengapa Gaya Manajerial Anda Sangat Penting?
Kami percaya Anda telah melihat bagaimana kepribadian seorang manajer memengaruhi produktivitas tim. Penelitian Gallup pada 2015 menunjukkan bahwa manajer bertanggung jawab atas 70% variasi dalam keterlibatan karyawan. Ini berarti, cara Anda memimpin langsung menentukan seberapa antusias tim Anda bekerja.
Memilih pendekatan manajerial yang tepat bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga tentang membangun budaya kerja yang mendukung kesuksesan jangka panjang. Apakah Anda pernah merenungkan gaya manajerial Anda sendiri? Mari kita bandingkan dua pendekatan utama: berorientasi pada hasil dan berorientasi pada orang.
Manajer Berorientasi pada Hasil: Fokus pada Angka
Bayangkan seorang manajer yang hanya peduli pada hasil akhir—target terpenuhi, keuntungan meningkat, dan efisiensi maksimal. Kami menyebutnya manajer berorientasi pada hasil. Bagi mereka, segalanya terbagi menjadi dua: “penting untuk hasil” atau “tidak relevan.” Berikut beberapa ciri mereka:
- Mengutamakan hasil di atas segalanya, seperti akuntan yang menghitung setiap angka.
- Menganggap karyawan sebagai alat, bukan individu dengan kebutuhan.
- Kurang menunjukkan keterampilan sosial, sering kali terasa dingin.
- Mengabaikan layanan pelanggan jika tidak berdampak langsung pada keuntungan.
- Tidak memprioritaskan manfaat atau pengakuan untuk karyawan.
Kami sering melihat manajer seperti ini menuntut karyawan bekerja lembur tanpa mempedulikan keseimbangan hidup mereka. Akibatnya, karyawan merasa tidak dihargai, yang meningkatkan risiko pergantian staf.
Sebagai contoh, saya pernah mengamati seorang manajer di perusahaan ritel yang memaksa timnya mencapai target penjualan tanpa jeda. Dalam setahun, setengah tim mengundurkan diri karena merasa terkuras. Klien juga mengeluh karena pelayanan buruk, yang merusak reputasi perusahaan. Apakah Anda pernah bekerja dengan manajer seperti ini? Bagaimana pengalaman Anda?
Manajer Berorientasi pada Orang: Prioritas pada Hubungan
Sekarang, bayangkan manajer yang selalu ramah, mendengarkan keluhan Anda, dan bahkan bersosialisasi di luar kantor. Kami menyebutnya manajer berorientasi pada orang. Fokus mereka adalah membangun hubungan dengan karyawan dan pelanggan. Berikut ciri-cirinya:
- Memiliki keterampilan sosial yang luar biasa, membuat semua orang merasa nyaman.
- Dicintai karyawan, meski terkadang hanya untuk penampilan.
- Percaya bisnis akan berjalan lancar jika semua orang bahagia.
- Memberikan kelonggaran berlebihan, seperti diskon besar untuk klien.
- Mengabaikan kekurangan kinerja demi menjaga hubungan baik.
Namun, pendekatan ini juga punya kelemahan. Kami melihat manajer berorientasi pada orang sering kali mengorbankan hasil demi kepuasan tim. Misalnya, seorang manajer di perusahaan teknologi yang saya dampingi pernah mempromosikan karyawan berdasarkan kedekatan pribadi, bukan kualifikasi. Akibatnya, produktivitas menurun, dan pemegang saham kecewa. Klien juga mulai beralih ke kompetitor yang lebih efisien.
Pernahkah Anda melihat manajer yang terlalu berfokus pada hubungan hingga mengabaikan target? Apa dampaknya bagi tim Anda?
Bahaya Pendekatan Ekstrem
Kami ingin Anda memahami risiko dari kedua pendekatan jika diterapkan secara ekstrem. Manajer berorientasi pada hasil mungkin mendorong kinerja jangka pendek, tetapi mereka sering membuat tim kelelahan. Karyawan menginginkan pengakuan dan fleksibilitas, seperti waktu untuk keluarga. Tanpa ini, mereka akan pergi, meninggalkan Anda dengan biaya perekrutan dan pelatihan yang tinggi. Dalam kasus terburuk, Anda bisa menghadapi pemberontakan tim yang merasa tidak dihargai.
Di sisi lain, manajer berorientasi pada orang menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, tetapi terlalu memanjakan karyawan dapat merusak disiplin. Bayangkan Anda sebagai manajer yang selalu menyetujui permintaan cuti atau mengabaikan keterlambatan. Tim mungkin menyukai Anda, tetapi produktivitas akan merosot, dan kompetitor akan melaju lebih cepat. Keseimbangan adalah kunci, tetapi bagaimana cara mencapainya?
Cara Menemukan Keseimbangan Sempurna
Kami ingin membantu Anda menjadi manajer yang efektif dengan pendekatan seimbang. Berikut beberapa langkah praktis:
- Tetapkan Tujuan Jelas
Pastikan tim Anda memahami target, tetapi komunikasikan dengan empati. Jelaskan mengapa tujuan ini penting bagi kesuksesan bersama.
- Tunjukkan Empati
Dengarkan keluhan karyawan dan tawarkan fleksibilitas, seperti jadwal kerja yang mendukung kehidupan pribadi mereka.
- Berikan Pengakuan
Rayakan pencapaian tim, baik besar maupun kecil, untuk meningkatkan motivasi tanpa mengorbankan hasil.
- Jaga Batas Profesional
Bersikap ramah, tetapi hindari menjadi “teman” yang terlalu dekat. Ini memastikan Anda tetap dihormati sebagai pemimpin.
- Fokus pada Pelanggan
Seimbangkan kebutuhan karyawan dengan pengalaman pelanggan untuk menjaga reputasi dan keuntungan perusahaan.
Apakah salah satu langkah ini terasa relevan untuk Anda? Coba pikirkan: apa satu tindakan yang bisa Anda ambil minggu ini untuk mendekati keseimbangan ini?
Simpulan
Kami percaya manajer terbaik tidak memilih antara hasil atau orang mereka menggabungkan keduanya. Pendekatan berorientasi pada hasil mendorong efisiensi, tetapi tanpa empati, Anda kehilangan loyalitas tim. Sebaliknya, pendekatan berorientasi pada orang membangun hubungan, tetapi tanpa fokus pada hasil, Anda merusak produktivitas. Dengan menyeimbangkan keduanya, Anda menciptakan tim yang termotivasi, produktif, dan setia.
Sekarang, kami ingin mendengar dari Anda. Pernahkah Anda bekerja dengan manajer yang terlalu berfokus pada hasil atau orang? Bagaimana Anda akan menerapkan keseimbangan ini dalam kepemimpinan Anda? Tulis cerita Anda di kolom komentar—kami antusias untuk berdiskusi! Mari kita jadikan kepemimpinan Anda kekuatan yang mendorong tim menuju kesuksesan jangka panjang!
Di sini sumber referensinya: https://peoplemanagingpeople.com/articles/result-vs-people-manager/
Tags
Tentang Penulis
Super Administrator
Artikel Terkait
Eksplorasi lebih banyak insights tentang coaching dan leadership

Mengapa Ambisi Menyenangkan Semua Orang Malah Merusak Kepemimpinan dan Organisasi Anda?
Berupaya menjadi “orang yang menyenangkan semua orang” dalam kepemimpinan mungkin terasa nyaman dalam jangka pendek karena menghindari konflik dan mencari validasi.
Super Administrator

Kenali 7 Tanda Bahaya Bahwa Gaya Kepemimpinan Anda Malah Mengusir Karyawan Terbaik
Dengan mengenali tujuh tanda ini dan bertindak, Anda tidak hanya menyelamatkan bakat. Anda membangun tim yang kuat dan loyal.
Super Administrator

Tingkatkan Karier dan Bisnis Anda dengan Sertifikasi AGC Level 1
AGC Level 1 adalah program sertifikasi coaching berstandar internasional untuk meningkatkan skill coaching, leadership, komunikasi, dan pengembangan SDM. Dengan 80 jam pelatihan, mentoring intensif, dan praktik langsung, peserta dipersiapkan menjadi coach profesional bersertifikasi ICF.
Super Administrator

Merangkul AI: Membangun Kepercayaan Diri dalam Kepemimpinan Era Teknologi
Ketika Anda merasa ragu, itu bukan tanda kelemahan, melainkan peluang untuk memperluas pengaruh Anda.
Super Administrator
